Peran Guru menuju Era Industri 4.0

Standard

Seorang guru adalah ujung tombak pendidikan yang selalu menjadi tokoh yang berada di garda terdepan guna melahirkan pribadi – pribadi unggul berkarakter dan berkepribadian Indonesia. Kesadaran fungsi guru ini diyakini banyak orang makin tinggi dan berkualitas telah dimiliki guru yang mengajar di DKI Jakarta. Namun tak sedikit pula dirasakan kesadaran ini tidak muncul pada guru yang berstatus PNS DKI Jakarta dan guru Honor KKI. Walaupun kenyataannya pemerintah terus menggulirkan kesejahteraan melalui penerimaan honor KKI/ UMP yang rata-rata besarnya sama dengan PNS golongam III D. Dengan dalih tak menerima tunjangan kinerja daerah dan tunjangan sertifikasi banyak guru status KKI jadi berhitung tugas dan fungsi dengan guru PNS. Wajar atau tidak wajarkah ini? semuanya tergantung kemapanan dan pemahaman berfikir, bertindak dengan bijaksana.

Issu Industri 4.0 yang bergulir menjadikan para guru juga pasang strategi , mencari pengetahuan dan updating literasi bertempur kemampuan, berlomba dengan waktu yang situasinya dan hasilnya tak terprediksi. Kendati seorang guru di era industri 4.0 tak kan pernah tergantikan, namun kemampuan penguasaan terhadap perangkat teknologi tak bisa ditawar lagi. Guru Indonesia apalagu guru DKI Jakarta, menjadikan perangkat teknologi dan informasi sebagai kawan setia yang akan menemaninya mengembangkan pembelajarannya di kelas dan diluar jam sekolah. Maksudnya no limit time for teacher for mempersiapkan pembelajarannya esok hari. No limit space to prepare the class for their student tommorow. All of that the teachers just tobe close with the internet and their PC / laptop.

Ada berjuta- juta hasil pencarian tentang pendidikan dan proses pembelajaran di internet. Kuncinya hanya guru harus memiliki kata kunci yang tepat dalam berselancar mencari info pengetahuan yang dibutuhkan. Dalam hal ini guru harus memiliki komunitas pendidik yang bukan hanya dari negara sendiri para guru haris juga mengeksplor dirinya ke berbagai negara, tentunya haris didukung dengan kemampuan bahasa asing yang aktif. Kemampuan lainnya yaitu tentang pengetahuan guru dalam menggunakan teknologi informasi komputer yang baik agar perjalanan berselancarnya tidak mendapat kendala. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah niat dan kesadaran dalam dirinya dalam mengembangkan TIK dan dirinya sendiri.

Disinilah urgensi Pembelajaran TIK yang menemukan pembenaran fungsinya. Sudah saatnya Guru dan siswa memiliki kemampuan yang relatif setara dalam penguasaan TIK. Ingatkah guru bahwa kita sedang berhadapan dengan generasi milenium yang sangat terbuka, tak terprediksi, tak berbatas dengan krisis dimensi mental yang tinggi, sementara kesiapan kita baik itu SDM, sistem maupun Sarpras kita belum mendukung dunianya.

Guru mungkin dalam pembelajaran masih banyak yang berkiblat dengan teori pakem dan akan mungkin bahwa teori itu sudah tak sesuai lagi. Patut kita sadari bahwa media visual, audio bahkan virtual lebih menyenangkan siswa kita. Mau tidak mau suka tidak suka guru WAJIB memanfaatkan sarana yang audio visual berbasis digital, tanpa mengesampingkan nilai nilai sikap/ karakter yang wajib juga diaplikasikan siswanya. Literasi dunia TIK guru dibutuhkan dalam mengelola kelasnya dan mengembangkan siswanya.

Guru WAJIB paham tentang core skill kemampuan yang dibutuhkan dalam pendidikan abad 21 ini. Menurut British Council pendidikan abad 21 its about core skill there are :Critical Thingking, Creativity, Colaboration, Citizensip, Literati.

#pembelajaran abad 21

#core skill

#guru

#kesadaran

thanks to read itūüĆľ

Advertisements

Manajemen Kelas

Standard

Hal yang terpenting dalam pengelolaan pembelajaran adalah manajemen kelas. Guru memfungsikan dan mengorganisasikan semua hal yang ada di kelas mulai dari siswa, kondisi kelas, waktu, materi pelajaran. Manajemen yang baik terlihat dari telah terbentuknya prosedur dan rutinitas dalam kelas. Kelas dengan lingkungan yang kondusif untuk belajar siswa, siswa akan nyaman dalam bekerja, berlatih, bermain, saling menghargai, memiliki kebiasaan disiplin. Semua materi belajar akan meudah disampaikan dan diterima karena situasi dan kondisi yanh sudah mendukung.

Guru yang baik akan memanage dan mendisiplinkan kelas. Dengan beberapa ketentuan sebagai berikut:

* guru dan siswa tidak harus menciptakan ketakutan dan kekerasan dalam menghadapi kejadian di kelas, buatlah kelas aman dan nyaman yang nantinya akan terbentuk konsistensi karena prosedur dan rutinitas kelas yang terbentuk.

*Bahwa siswa tidak akan cepat berubah sikapnya jika dengan kesaadaran siswa sendiri, siswa belajar membangkitkan kesadarannya dan tanpa paksaan dalam menghargai diri sendiri, orang lain dan kelasnya sendiri.

* kegagalan dalam mengorganisasikan kelas ( menyampaikan materi, lembar kerja, video film, kegiatan yang tanpa diorganisasikan) tidak akan menghasilkan apapun.

*Prosedur di kelas hendaknya terencana, dapat ditangkap siswa, dan konsisten. Siswa harus paham hari demi hari bahwa kelasnya terstruktur dan terorganisasi yang harus dihargai bersama.

*Siswa akan paham apa yang harus dilakukan tanpa diminta karena kesadaran sendiri tanpa keterpaksaan.

Manajemen Kelas dan Disiplin adalah hal yang berbeda. Guru akan memanaje kelasnya dengan cara :

1. merencanakan prosedur untuk kelasnya

2. memiliki prosedur pengajaran untuk memaksimalkan perkembangan siswa

3. Sistem pengajaran dengan prosedur yang jelas.

Guru yang tidak memiliki rencana maka sebenarnya guru itu telah merencanakan kegagalan. Sebelum tahun ajaran baru buatlah daftar yang dibutuhkan dan buatkan hal yang mungkin akan dibutuhkan siswa di awal tahun. Susunlah prosedur dari anak masuk sekolah sampai pulang kembali ke sekolah. Hal ini akan membuat guru yakin akan kesiapanya mengajar dan biarkan siswa juga tahu bahwa guru atau saya sudah siap mengajar dan mendidikmu di kelas. Proaktiflah terhadap siswa dan pastikam prosedur tidak berubah atau bahkan guru tak menggunakan prosedur yang sudah ditetapkannya.

Ada baiknya mengidentifikasikan peraturan yang lebih spesifik , membuat prosedur dan menyampaikan rutinitas kelas di minggu pertama tahun ajaran setiap tahunnya. Kesusksesan siswa di akhir pelajaran tergantung tingkat kekuatan guru mengontrol prosedur kelasnya.

*Prosedur : apa yang guru ingin lakukan terhadap kelasnya. Guru akan membuat prosedur dalam memanage kelasnya. Kesulitan dalam sebuah prosedur biasanya karena jumlahnya banyak kuncinya adalah terbukalah untuk apapun yang dilakukan siswa di kelas, yakinkan penerimaan siswa dan siswa dapat mengidentifikasikannya dengan baik tiap prosedur yang diberikan. Pastikan menjadi rutinitas siswa dengan kesadarannya di kelas.

Ada tiga pendekatan dalam prosedur mengajar di kelas.

1. Jelaskanlah maksudnya berikan pernyataan, menjelaskan, memberikan peraga dan memdemonstrasikan prosedur

2. Berlatihlah maksudnya latihkah dan praktekkan semua prosedur di bawah pengawasan guru

3. Penguatan maksudnya berikan penguatan dalam menyampaikan, dalam praktek dan dalam melatih agar siswa jadi biasa melakukan dengam kesadaran sendiri.

Contoh Prosedur :

*pergantian kursi atau meja

*apa yanh dilakukan saat selesai mengerjakan tugas lebih dahulu

* ke mana mendapatkan izin saat tidak masuk sekolah

*cara izin ke toilet

*cara guru minta perhatian siswa

*apa yang dilakukan saat bel istirahat berbunyi

*apa yang dilakukan saat ada bel bahaya

*apa yang dilakukan saat belum paham dalam belajar

*bagaimana masuk kelas

*apa yang dilakukan jika butuh kertas kerja

*bagaimana cara berkelompok

* bagaimana cara meninggalkan ruang kelas

*apa yang dilakukan saat butuh pertolongan

*dan lainnya

Demikianlah sedikit penjelasan tentang Manajemen Kelas

#oleholeh saat Innovative School Programme di Mentaro Intercultural School Bintaro#10November2018#

Pelantikan

Standard

Kemarin di dinding saya penuh foto pelantikan kepala sekolah dari TK s.d. SMK terlihat kegembiraan dan tidak sedikit pula bersyukur bahkan ada pula yang haru karena mendapat tugas amanah tanggung jawab yang wajib disuguhi kepada pejabat yang melantik dan sekaligus kepada Allah swt Tuhan yang Maha Kuasa.

Untuk pengabdian yang telah panjang cukup kiranya menjadi bekak sebagian kawanku ini untuk tiba menjabat, memimoin dan mengelola sekolah. Mata visinya bukan untuk seantero kelas sekarang kepala sekolah baru ini akan belajar menuangkan visi misi sebuah institusi pendidikan sesuai regulasi juga pas dengan harapan dan mimpi kepala sekolah baru ini.

Yang mereka butuhkan hanyalah tekad dan niat untuk dapat memukai mewujudkan mimpi. Hingga doa jika diperjalanan nanti dalam mengemban amanah ini akan dapat menghalau dan melewatinya.

Menurut Peraturan Gubernur bahwa masa tugas menjadi keplaa sekolah adalah 3 periode berati 12 tahun. Akan banyak sekolah sekolah di DKI Jakarta ini yang mulai disentuh dikelola oleh kawan-kawan ini dan saya yakin bahwa akan bermunculan sekolah yang bermutu sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pasti cocok sebagai wadah pendidikan di Kota dan siswa yang milenium.

Apalah sebuah janji dan ikrar diucapkan jika hanya sampai di bibir saja, akanlah menjadi mukia jika janji itu disegerakan dan diwujudkan.

Demikian seperti kata Pak Anies sang Gubernur yang juga guru.

Pesan bapak Gubernur:

1. Sekolah adalah sebuah ekosistem yg subur yang untuk mendukung itu sekolah membutuhkan cuaca yang juga mendukung, yang kalau boleh saya tangkap bahwa Pak Gubernur ingin kepala sekolah agar selalu menciptakan suasana belajar, lingkungan sekolah dan warga sekolah yang menyenagkan anak-anak, membuat betah dan mendukung seluruh program sekolah.

Hingga kebahagiaan dan kenyamanan sekolah adalah yang utamanya di sebuah taman pendidikan Pak Gubernurpun menyerukan agar selalu menggunakan kata tumbuhkan bukan membentuk karakter

2. Jadilah Kepala sekokah sebagai pemimpin bukan sebagai otoritas.Karena pemimpin itu diikuti sedang otoritas hanyalah pemegang tanggung jawab dari pemerintah. Kata-kata dan sikap kepala sekokah harus dapat diikuti siswa, guru dan lingkungan.

3. Jadikan sekolah sebagai sekolah yang menyenangkan bagi seluruh warganya. Sekolah menyenangkan itu saat siswanya di sekolah saat berangkat dari rumah,

Bangunlah suasana menyenangkan. Indikatorny anak berangkat, berada di sekolah, dan plg susah hati
4. Bangun hub yg baik dg ortu dan lingkungan sekitar.
Buat keg anak2 bagian dr lingk dan ajak ortu dlm keg sklh.
Ada 25 parameter untuk menjawab apakah sklh sdh menyenangkan. Dikirim melalui Dinas Pend

Marilah bereflektif dg KS disaat kita sekolah. Bgm kita sbg KS apakah KS yg baik atau bukan. Apakah kita bisa menginspirasi. Apakah kita bisa sbg teladan,

Faktor terpenting adalah faktor liedership KS…

Kenangan yg baik bs kita ikuti, tetapi yg tdk baik jd catatan agar tdk terjadi

Jadikan kepercayaan ini sbg kepercayaan dr pemprof dari negara untuk menumb7hkan sekolah dg ekosistem yg baik agar menjadi sekolah yg bermutu

Penilaian Pembelajaran

Standard
Penilaian Pembelajaran

Proses pembelajaran merupakan salah satu unsur yang penting dalam pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas mencakup 5 unsur (UNICEF, 2000), yaitu:

  1. Peserta didik yang berkualitas: sehat jasmani dan rohani dan siap untuk berpartisipasi dan belajar, proses belajarnya didukung oleh keluarga dan lingkungannya.
  2. Lingkungan belajar yang berkualitas: sehat, aman, protektif dan gender-sensitive, dan menyediakan sumber belajar dan fasilitas belajar yang memadai.
  3. Konten yang berkualitas: tercermin dalam kurikulum dan materi ajar yang relevan demi tercapainya keterampilan dasar, khususnya di bidang literasi, numerasi dan kecakapan hidup, pengetahuan dalam hal gender, kesehatan, nutrisi, pencegahan HIV/AIDS dan perdamaian.
  4. Proses pembelajaran yang berkualitas: guru yang terlatih menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik di dalam kelas yang dikelola dengan baik, penilaian yang baik untuk memfasilitasi belajar dan mengurangi kesenjangan.
  5. Outcomes yang berkualitas: lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap, dan terarah pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, serta berpartisipasi positif di dalam masyarakat.

Pada uraian tentang proses pembelajaran berkualitas di atas, jelas terlihat bahwa proses pembelajaran berkualitas sangat ditentukan oleh guru yang berkualitas. Lalu, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apa yang dimaksud dengan guru yang berkualitas. Menurut¬† Darling-Hammond (1997) seperti dikutip oleh UNICEF (2000), guru yang berkualitas adalah guru yang menguasai materi pelajaran (konten) yang diajarkan dan pedagogi. Namun, seiring perkembangan teknologi, guru yang berkualitas sekarang diartikan sebagai guru yang menguasai pengetahuan¬† teknologi pedagogi dan konten, yang dikenal dengan istilah TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) (Koehler & Mishra, 2009). Menurut Heick (2014), suatu pembelajaran dikatakan aktif, efektif, dan berkualitas bila memiliki¬† karakteristik sebagai berikut:¬† 1. peserta didik aktif bertanya ‚Äď pertanyaan yang baik;¬† 2. pertanyaan dihargai lebih dari jawaban;¬† 3. gagasan atau ide datang dari berbagai sumber;¬† 4. berbagai model pembelajaran digunakan; 5. penilaian dilakukan secara persisten, otentik, transparan, dan tidak bersifat menghukum; 6. kebiasaan belajar (learning habits) terus diterapkan; 7. ada kesempatan untuk mempraktekkan pengetahuan (Heick, 2014).

Di samping itu, Muhtadi (2005) mengemukakan 6 iklim kelas yang kondusif dan berkualitas yaitu:  1. pendekatan pembelajaran yang student-centered; 2. guru menghargai partisipasi aktif dari siswa; 3. guru bersikap demokratis;  4. guru mengutamakan dialog dalam mengatasi permasalahan  pembelajaran dengan siswa; 5. lingkungan kelas yang memotivasi siswa untuk belajar dan berpartisipasi dalam kelas; 6. berbagai sumber belajar tersedia (Muhtadi, 2005).

Efektivitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh peranan guru dalam pembelajaran. Guru harus berusaha agar peserta didik mendapatkan layanan yang sama tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan yang berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran. Untuk menjamin terselenggaranya proses pembelajaran yang berkualitas di sekolah, pelaksanaan supervisi akademik menjadi sangat penting. Peningkatan kualitas pembelajaran yang bermuara pada capaian belajar siswa yang optimal menjadi fokus pelaksanaan supervisi akademik (Kotirde, 2014).  Dengan kata lain, supervisi akademik menjadi suatu alat untuk mencapai pembelajaran yang berkualitas, yakni dengan cara mensupervisi guru melalui perangkat pembelajarannya, proses pembelajaran serta penilaian. Lalu, siapa yang akan melaksanakan supervisi akademik? Kepala sekolah bertanggung jawab dalam pelaksanaan supervisi akademik di sekolah. Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah dapat menugaskan guru senior untuk melaksanakan supervisi akademik di sekolah (Kotirde, 2014).

Supervisi akademik adalah suatu proses pengawasan yang dilakukan oleh seseorang (biasanya kepala sekolah) kepada guru, yang bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar di sekolah, dan pada gilirannya akan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas proses belajar peserta didik (Fischer, n.d.). Melalui kegiatan supervisi akademik, kepala sekolah memastikan bahwa guru melaksanakan tugas mengajar mereka dengan baik dan siswa menerima layanan pembelajaran yang terbaik. Melalui supervisi akademik, guru diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran, dan kepala sekolah juga dapat membuat program pengembangan profesionalisme guru (Tyagi, 2009).  Hal ini dapat dicapai bila guru mendapatkan bantuan dari kepala sekolah dalam mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.    Dalam pelaksanaan supervisi akademik,  kepala sekolah harus berlaku adil terhadap semua guru tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan yang berkebutuhan khusus dalam mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran.  Pengembangan profesionalsime guru dalam  konteks supervisi akademik tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, tetapi juga pada pembaharuan komitmen (commitment),  kemauan (willingness), dan motivasi (motivation) guru (Kemdiknas, 2007). Peningkatkan pada kemampuan dan motivasi kerja guru tentu akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran. Sergiovanni seperti dikutip di Kementerian Pendidikan Nasional (2007) mengatakan tiga tujuan supervisi akademik sebagaimana dapat dilihat pada gambar berikut.

Tujuan supervisi akademik

  1. Supervisi akademik dilaksanakan untuk membantu guru meningkatkan kemampuan profesionalnya, yang mencakup pengetahuan akademik, pengelolaan kelas, keterampilan proses pembelajaran, dan dapat menggunakan semua kemampuannya ini untuk memberikan pengalaman belajar yang berkualitas bagi peserta didik.
  2. Supervisi akademik dilakukan untuk memeriksa atau memastikan proses pembelajaran di sekolah berjalan sesuai ketentuan dan tujuan yang ditetapkan. Kegiatan pengawasan ini dapat dilakukan melalui kunjungan ke kelas-kelas di saat guru sedang mengajar, percakapan pribadi dengan guru, teman sejawatnya, maupun dengan peserta didik.
  3. Supervisi akademik dilakukan untuk mendorong guru meningkatkan kompetensinya, melaksanakan tugas mengajarnya dengan lebih baik dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilannya, dan memiliki perhatian yang sungguh-sungguh (commitment) terhadap tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru (Kemdiknas, 2007).

Supervisi akademik berkaitan erat dengan pembelajaran berkualitas, karena proses pembelajaran yang berkualitas memerlukan guru yang profesional, dan guru profesional dapat dibentuk melalui supervisi akademik yang efektif. Guru sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran dapat ditingkatkan profesionalitasnya melalui supervisi akademik sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Melalui supervisi akademik, refleksi praktis untuk penilaian unjuk kerja guru dapat dilaksanakan, kesulitan dan permasalahan dalam proses pembelajaran dapat diidentifikasi, informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran dapat diketahui, dan program tindak lanjut untuk pengembangan profesionalsime guru dapat disusun (Kemdiknas, 2007). Dengan demikian, supervisi akademik adalah bagian dari proses pengembangan profesionalsime guru agar semakin mampu menyediakan layanan belajar yang berkualitas bagi peserta didik.

Prinsip Supervisi Akademik Kepala Sekolah dalam melaksanakan kegiatan supervisi akademik perlu memperhatikan prinsip-prinsip supervisi akademik agar tercipta hubungan yang baik antara kepala sekolah, guru dan semua pihak yang terlibat. Adapun prinsip-prinsip supervisi akademik dijelaskan dalam  sebagai berikut. 1. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah. 2. Sistematis, artinya dikembangkan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran. 3. Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen. 4. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya. 5. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang memungkinkan terjadi. 6. Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran. 7. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan pembelajaran. 8. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran. 9. Demokratis, artinya kepala sekolah tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik 10. Aktif artinya guru dan kepala sekolah harus aktif berpartisipasi. 11. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor. 12. Berkesinambungan, artinya supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan (Kemdiknas, 2010a. pp. 6-7).

Supervisi Klinis

Supervisi akademik yang menggunakan model pendekatan berbasis permintaan/ kebutuhan guru, disebut supervisi klinis. Supervisi klinis berlangsung dalam bentuk hubungan tatap muka antara kepala sekolah dan guru. Yang menjadi fokus pengamatan pada saat supervisi klinis adalah hal yang menjadi permasalahan bagi guru yang disupervisi, dan pengamatan harus dilakukan secara teliti dan mendetail. Hubungan antara kepala sekolah sebagai supervisor dan guru juga harus dijaga sebagai hubungan kolegial, bukan otoriter, karena supervisi klinis dilakukan secara bersama antara kepala sekolah dan guru. Kepala sekolah melakukan supervisi klinis atas dasar permintaan guru yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Karena itu, kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi ini haruslah didasarkan pada semangat tolong menolong.

Berikut langkah-langkah supervisi klinis (Kemdikbud, 2014):

  1. Tahap Pertemuan Awal Pertemuan awal, disebut juga dengan preobservation conference atau planning conference, yang bertujuan agar kepala sekolah dan guru bersama-sama mengembangkan kerangka kerja observasi kelas yang akan dilaksanakan. Guru yang akan disupervisi menyiapkan RPP, dan kepala sekolah sebagai supervisor mempelajari dan memahami tujuan pembelajaran yang akan dicapai (Quiroz, 2015) menetapkan waktu dan tempat pelaksanaan supervisi proses pelaksanaan pembelajaran, dan menentukan aspek-aspek yang akan diobservasi dan cara mengobservasinya. Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara kepala sekolah dan guru. Tujuan supervisi klinis dapat dicapai apabila dalam pertemuan awal tercipta kerja sama, hubungan kemanusiaan dan komunikasi yang baik antara kepala sekolah sebagai supervisor dengan guru yang akan disupervisi. Kualitas hubungan yang baik antara kepala sekolah dan guru akan berdampak secara signifikan terhadap kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervisi klinis.  Ada delapan kegiatan teknis yang penting diperhatikan dan dilaksanakan dalam pertemuan awal ini, yaitu:  a. menciptakan hubungan yang akrab dan terbuka antara kepala sekolah dan guru,  b. mengidentifikasi hal yang perlu dikembangkan guru dalam proses pembelajaran,  c. menerjemahkan permasalahan guru dalam perilaku yang bisa diobservasi,  d. menentukan langkah-langkah untuk memperbaiki proses pembelajaran guru,  e. membantu guru menentukan tujuan perbaikannya sendiri,  f. menentukan waktu pelaksanaan dan instrumen observasi kelas,   g. memperjelas konteks proses pembelajaran dengan menentukan data apa yang akan peroleh.
  2. Tahap Observasi Pembelajaran Tahap kedua dalam proses supervisi klinis adalah mengamati proses pembelajaran secara sistematis dan objektif, dimana supervisor mengamati guru mengajar sebagaimana digariskan dalam RPP (Quiroz, 2015). Aspek-aspek yang akan diobservasi harus sesuai dengan hasil diskusi antara kepala sekolah dan guru pada pertemuan awal.
  3. Tahap Pertemuan Balikan Pertemuan balikan atau pertemuan pemberian umpan balik dilakukan segera setelah melaksanakan observasi proses pembelajaran, dengan ketentuan bahwa hasil observasi sudah dianalisis terlebih dahulu. Tujuan utama pertemuan balikan ini adalah bersama-sama membahas hasil pengamatan proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh kepala sekolah. Inti pembicaraan dalam pertemuan balikan ini difokuskan pada identifikasi dan analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan murid yang diharapkan dengan perilaku aktual guru dan murid, serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana langkah yang seharusnya diambil untuk menindaklanjuti perbedaan tersebut. Ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru (Goldhammer, Anderson, & Krajewski, 1981), yaitu:  a. guru bisa termotivasi dalam pekerjaannya dengan diberikannya penguatan dan kepuasan;  b. kepala sekolah dan guru dapat bersama-sama mendefinisikan secara tepat isu-isu dalam pengajaran;  c. bila perlu dan memungkinkan, kepala sekolah dapat mengintervensi secara langsung untuk memberikan bantuan didaktis dan bimbingan bagi guru;  d. guru bisa dilatih untuk melakukan supervisi terhadap dirinya sendiri; dan  e. guru bisa diberi pengetahuan tambahan untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan analisis diri secara profesional pada masa yang akan datang.

Pendekatan Supervisi Akademik

Pendekatan adalah cara atau perbuatan untuk mendekatkan diri kepada suat objek atau langkah-langkah menuju objek (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016). Dalam hal ini pendekatan supervisi akademik adalah strategi untuk melakukan kegiatan supervisi akademik. Supervisi akademik dapat dilaksanakan dengan dua cara atau pendekatan, yaitu pendekatan langsung (direct contact) dan pendekatan tidak langsung (indirect contact) (Sudjana, 2002). Pendekatan langsung dapat disebut dengan pendekatan tatap muka, sementara pendekatan tidak langsung menggunakan perantara, seperti melalui surat menyurat, media massa, media elekronik, radio, kaset, internet dan lain-lain.  Pendekatan yang digunakan dalam menerapkan supervisi modern didasarkan pada prinsip-prinsip psikologis. Suatu pendekatan atau teknik pemberian supervisi, sebenarnya juga sangat bergantung kepada prototipe orang yang disupervisi.  Ketiga pendekatan di atas dijabarkan kembali seperti berikut ini:  1. Pendekatan langsung (direktif), yaitu cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Kepala sekolah memberikan arahan langsung kepada pendidik. Sudah tentu pengaruh perilaku kepala sekolah lebih dominan. Pendekatan tidak langsung (non-direktif), yaitu cara pendekatan terhadap permasalahan yang menggunakan media perantara. Perilaku kepala sekolah dalam pendekatan non-direktif adalah: mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah.

Satu pendekatan supervisi akademik lainnya adalah pendekatan kolaboratif, yaitu pendekatan supervisi yang dilakukan oleh sesama guru (Abanil, 2014). Pendekatan kolaboratif ini menekankan prinsip bahwa sesama guru bertanggung jawab terhadap pertumbuhan profesional mereka, belajar kooperatif dan secara kolega, serta saling bekerja sama.   Selain ke-3 pendekatan supervisi akademik tersebut, terdapat 3 pendekatan lain dalam supervisi akademik menurut Achecon, Keith A, at al, 1997 seperti dikutip dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014: 78 adalah: 1. Scientific, didasarkan atas data (hasil pengamatan dan pencatatan yang teliti, objektif dan valid) untuk selanjutnya diambil langkah perbaikan yang diperlukan. 2. Artistic, dilakukan secara tidak langsung pada persoalan (to the point) tetapi kepala sekolah menggunakan seni tertentu. Pendekatan artistik merekomendasikan agar kepala sekolah turut mengamati, merasakan, dan mengapresiasikan pengajaran yang dilakukan oleh guru. Langkah-langkah pendekatan artistik, yaitu: a. Ketika hendak berangkat ke lapangan, kepala sekolah tidak boleh mempunyai pretensi apa pun tentang pengajaran yang akan diamati. b. Melakukan pengamatan terhadap guru dengan cermat, teliti, utuh, menyeluruh serta berulang-ulang. c. Memberikan interpretasi atas hasil pengamatan secara formal, setelah pengajaran selesai. d. Menyusun hasil interpretasi dalam bentuk narasi. e. Menyampaikan hasil interpretasi yang sudah dinarasikan kepada guru. f. Menerima umpan balik dari guru terhadap pengamatan yang telah dilakukan. Clinic, didasarkan atas diagnosis kekurangan (kelemahan/penyakit) untuk langkah perbaikan selanjutnya (Kemdikbud, 2014).

Satu pendekatan tidak dapat diaplikasikan pada semua kondisi atau tujuan supervisi akademik. Satu pendekatan yang dipilih harus dapat memenuhi kebutuhan dan kesulitan individual guru (Abanil, 2014). Oleh karena itu, memilih pendekatan merupakan proses harus dilakukan secara hati-hati, harus dipertimbangkan pendekatan mana yang efektif dan mengapa (Quiroz, 2015).

Teknik Supervisi Akademik

Teknik supervisi adalah cara spesifik yang digunakan oleh supervisor untuk mencapai tujuan supervisi yang pada akhirnya dapat melakukan perbaikan proses pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Menurut Gwyn seperti dikutip dalam Kementerian Pendidikan Nasional, 2010:23, ada dua macam teknik supervisi akademik, yaitu: individual dan kelompok (Kemdiknas, 2010b).  Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi yang dilakukan terhadap guru secara perorangan. Supervisor berhadapan dengan seorang guru untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut.

Teknik supervisi individual ini dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas, dan menilai diri sendiri. Berikut uraian ke-5 macam teknik supervisi individual.

  1. Kunjungan kelas Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah sebagai supervisor untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk menolong guru mengatasi kesulitan dan masalah di dalam kelas.  Kunjungan kelas dapat dilaksanakan: a. dengan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada guru yang hendak disupervisi, tergantung sifat tujuan dan masalahnya, b. atas permintaan guru yang akan disupervisi, c. bila instrumen atau catatan-catatan sudah disiapkan, dan d. setelah menentukan tujuan kunjungan kelas.  Ada empat tahap dalam melaksanakan kunjungan kelas.  a. Tahap persiapan. Pada tahap ini, supervisor merencanakan waktu dan sasaran, menyiapkan instrumen, dan cara mengobservasi proses pembelajaran.  b. Tahap pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengimplementasikan perencanaan tersebut, yaitu mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung.  c. Tahap akhir kunjungan. Pada tahap ini, supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi.  d. Tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut.Dalam melaksanakan kunjungan kelas, digunakan enam kriteria yaitu:  a. memiliki tujuan-tujuan tertentu;  b. mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru;  c. menggunakan instrumen observasi untuk mendapatkan data yang obyektif;  d. terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian;  e. pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses pembelajaran; dan f. pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.
  2. Observasi kelas  Observasi kelas adalah mengamati proses pembelajaran secara teliti di kelas. Tujuannya adalah untuk memperoleh data objektif aspek-aspek situasi pembelajaran, kesulitan-kesulitan guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran.  Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi adalah:  a. usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran, b. cara menggunakan media pengajaran c. variasi metode, d. ketepatan penggunaan media dengan materi e. ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan f. reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar.  Pelaksanaan observasi kelas ini melalui tahap:  a. persiapan,  b. pelaksanaan,  c. penutupan,  d. penilaian hasil observasi; dan  e. tindak lanjut.  Supervisor dalam observasi kelas sudah siap dengan instrumen observasi, menguasai masalah dan tujuan supervisi, serta observasi tidak mengganggu proses pembelajaran.  3)  Pertemuan Individual Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara supervisor guru. Tujuannya adalah:  a. memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi; b. mengembangkan hal mengajar yang lebih baik; c. memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru; dan d. menghilangkan atau menghindari segala prasangka.
  3. Terdapat empat jenis pertemuan (percakapan) individual (Swearingen, 1962) sebagai berikut: a. classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat); b. office-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru; c. casual-conference, yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru; d. observational visitation, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas. Pada pelaksanaan pertemuan individual, supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, memberikan pengarahan, dan melakukan kesepakatan terhadap hal-hal yang masih meragukan. Pelaksanaan supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual sebaiknya melalui tahapan sebagai berikut:
  4. Persiapan: mengumpulkan informasi tentang guru yang akan disupervisi, mengidentifikasi masalah guru, dan menetapkan tujuan supervisi.  b. Pelaksanaan: mengkonfirmasi permasalahan yang dihadapi guru dan tujuan supervisi, mendiskusikan permasalahan yang dihadapi guru dan beberapa alternatif pemecahan masalahan.  c. Akhir pertemuan: menyepakati waktu dan tempat pertemuan untuk pemecahan masalah d. Tindak lanjut: menindaklanjuti kesepakatan.    4) Kunjungan antar kelas Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran.  Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas: a. harus direncanakan; b. guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi; c. tentukan guru-guru yang akan mengunjungi; d. sediakan segala fasilitas yang diperlukan; e. supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat; f. adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai, misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu; g. segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi; h. adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.
  5. Menilai diri sendiri Menilai diri adalah penilaian diri yang dilakukan oleh diri sendiri secara objektif. Untuk maksud itu diperlukan kejujuran diri sendiri. Cara-cara menilai diri sendiri diuraikan sebagai berikut. a. Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas. Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama. b. Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja. c. Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara individu maupun secara kelompok.
  6. Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi, ada tiga belas teknik supervisi kelompok yaitu: kepanitiaan-kepanitiaan, kerja kelompok, laboratorium dan kurikulum, membaca terpimpin, demonstrasi pembelajaran, darmawisata, kuliah/studi, diskusi panel, perpustakaan, organisasi profesional, buletin supervisi, pertemuan guru, lokakarya atau konferensi kelompok.

Untuk menetapkan teknik-teknik supervisi akademik yang tepat, seorang kepala sekolah harus mengetahui aspek atau bidang keterampilan yang akan dibina dan karakteristik setiap teknik di atas serta sifat atau kepribadian guru, sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik.

Sehubungan dengan kepribadian guru, Lucio dan McNeil seperti dikutip dalam Kementerian Pendidikan Nasional, 2007:43 menyarankan agar kepala sekolah mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru, yaitu kebutuhan guru,  minat  guru,  bakat  guru,  temperamen  guru, sikap guru, dan sifat-sifat somatik guru/aktivitas fisik (Kemdiknas, 2007).

Pelaksanaan Supervisi Akademik

  1. Saudara telah menyelesaikan penyusunan perencanaan supervisi akademik  Selanjutnya, Saudara akan melaksanakan supervisi akademik. Melalui kegiatan ini Saudara dapat menemukan kekuatan dan kelemahan guru dalam proses pembelajaran. Hasil temuan ini dapat Saudara gunakan sebagai acuan dalam pemberian feedback guna meningkatkan profesionalisme guru. Guru yang profesional akan mampu memberikan pembelajaran yang bermutu sehingga prestasi belajar peserta didik meningkat. Dalam melaksanakan supervisi akademik, Saudara dapat memanfaatkan teknologi informasi seperti komputer/laptop untuk menyusun instrumen. Selain itu, dalam melakukan observasi, Saudara dapat memanfaatkan media digital seperti alat perekam suara dan atau kamera. Tujuan pemanfaatan teknologi informasi agar pelaksanaan supervisi akademik dapat berjalan lebih efektif.
  2. Saudara akan melakukan tiga kegiatan secara berturut-turut yakni untuk  menyiapkan dokumen Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), KKM, Program Tahunan, Program Semester, Daftar Hadir, Daftar Nilai, Kalender Pendidikan, Jadwal Pelajaran, Agenda Harian, Buku Pedoman, dan Buku Teks Pelajaran dari salah satu guru Saudara.
  3. Instrumen-instrumen yang dibutuhkan terdiri dari: 1. Instrumen 9a digunakan untuk mengamati perencanaan pembelajaran. Instrumen ini berupa check list dokumen perencanaan pembelajaran yakni program tahunan, program semester, silabus, RPP, kalender pendidikan, daftar nilai, dokumen kriteria ketuntasan minimal, daftar hadir peserta didik. 2. Instrumen 9b digunakan untuk mencermati RPP yang terdiri dari dua (2) komponen utama yaitu check list sistimatika isi RPP dan check list kesesuaian dengan prinsipprinsip pembuatan RPP. 3. Instrumen 10a digunakan untuk mengamati proses pelaksanaan pembelajaran di kelas. Instrumen observasi proses pelaksanaan pembelajaran ini terdiri atas tiga komponen utama yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. 4. Instrumen 10b digunakan untuk wawancara setelah observasi proses pembelajaran. 5. Instrumen 11 digunakan untuk mengobservasi penilaian hasil pembelajaran.

Pada kegiatan pembelajaran, jika terdapat kegiatan yang harus dilakukan dalam kelompok, misalnya diskusi, bermain peran, namun jumlah peserta tidak memungkinkan, kegiatan tersebut dapat diubah menjadi kegiatan individu.

Umpan Balik Supervisi Akademik

Umpan  balik  pada  hakikatnya  merupakan  komentar  terhadap  suatu  hasil  pekerjaan, dalam hal ini adalah proses pembelajaran, yang dapat dilakukan secara tertulis ataupun lisan  yang langsung kepada guru. Setiap guru, apapun latar belakang dan status sosialnya (jenis kelamin, status sosial ekonomi, agama, suku, dan yang berkebutuhan khusus) harus mendapatkan layanan umpan balik yang sama. Umpan balik diberikan sedemikian rupa sehingga guru dapat memahami temuan, mengubah perilaku yang teridentifikasi dan mempraktekkan panduan yang diberikan. Seorang supervisor dalam melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi dilakukan sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah meliputi: 1. penguatan dan penghargaan kepada guru yang menunjukkan kinerja yang memenuhi atau melampaui standar; dan 2. pemberian kesempatan kepada guru untuk mengikuti program pengembangan keprofesionalan berkelanjutan. Secara umum ada 2 metode pemberian umpan balik yang efektif. 1. Verbal (lisan), pemberian komentar terhadap hasil pengamatan proses pembelajaran secara langsung melalui tatap muka tidak ada jarak atau peralatan yang digunakan. Metode ini biasanya dilakukan dengan cara saling berbicara/berdialog, wawancara, rapat, pidato, dan diskusi. Selain itu, pemberian komentar juga dapat dilakukan secara tidak langsung melalui perantara alat seperti telepon, dan lain sebagainya karena adanya jarak si pembicara dengan lawan bicara. 2. Nonverbal (tertulis), pemberian komentar terhadap hasil pengamatan proses pembelajaran dengan perantaraan tulisan tanpa adanya pembicaraan secara langsung dengan menggunakan bahasa yang singkat, jelas, dan dapat dimengerti oleh penerima. Metode ini dapat berupa surat-menyurat, sms, e-mail, foto pembelajaran, dan lain sebagainya.

Umpan balik adalah upaya untuk memberi pertolongan bagi supervisor dalam melaksanakan tindak lanjut supervisi. Dari umpan balik itu pula dapat tercipta suasana komunikasi yang tidak menimbulkan ketegangan, menonjolkan otoritas yang mereka miliki, memberi kesempatan untuk mendorong guru memperbaiki penampilan, serta kinerjanya.

Laporan Supervisi Akademik

Jika telah melaksanakan serangkaian kegiatan supervisi akademik mulai dari perencanaan, pelaksanaan, analisis hasil pelaksanaan supervisi akademik, pemberian umpan balik dan rencana tindak lanjut pada topik-topik sebelumnya. Guru akan melakukan pembelajaran tentang menyusun laporan kegiatan supervisi akademik. Dokumen laporan ini penting sebagai bentuk pertanggungjawaban Sebagai kepala sekolah kepada stake holder, termasuk kepada guru yang bersangkutan, staf  guru, komite sekolah, dan pengawas sekolah. Dokumen laporan juga penting sebagai dokumen portofolio tentang perkembangan proses pembelajaran guru dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran mereka. Proses pembelajaran yang berkualitas akan meningkatkan prestasi peserta didik di sekolah Saudara.

Pada kegiatan ini guru diminta mengumpulkan semua dokumen supervisi akademik, seperti instrumen pengamatan dan hasil pengamatan guru, contoh perangkat pembelajaran guru, atau dokumen lain yang mendukung (foto-foto kegiatan dan/atau tayangan audio visual jika ada) untuk selanjutnya dibuat laporan sesuai dengan sistematika laporan hasil supervisi akademik.

Pada kegiatan pembelajaran, jika terdapat kegiatan yang harus dilakukan dalam kelompok, misalnya diskusi, bermain peran, namun jumlah peserta tidak memungkinkan, kegiatan tersebut dapat diubah menjadi kegiatan individu.

Menyusun Dokumen Laporan

Pada kegiatan ini guru harus mengumpulkan semua dokumen kegiatan supervisi akademik mulai perencanaan, pelaksanaan, analisis data, dan pemberian umpan balik dalam satu dokumen. Susunlah laporan sederhana berdasarkan dokumen tersebut mengikuti sistematika laporan supervisi.

 Menyusun Laporan Sederhana

Setelah guru mengikuti seluruh proses siklus supervisi akademik, kumpulkanlah semua dokumen perencanaan, pelaksanaan, analisis data, dan pemberian umpan balik dalam satu dokumen. Selanjutnya susunlah laporan sederhana dari seluruh proses.

Laporan Supervisi Akademik

Laporan supervisi merupakan dokumen yang berisi catatan terstruktur tentang hasil pekerjaan yang dilakukan oleh supervisor. Tujuan pelaporan supervisi adalah untuk mengkomunikasikan secara jelas kepada masyarakat non-profesional yang lebih luas mengenai kekuatan dan kelemahan sekolah, meliputi keseluruhan kualitasnya, standar pencapaian prestasi siswa, dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki hal yang dibutuhkan. Selain itu laporan supervisi bertujuan untuk media informasi tertulis bagi  pihak-pihak terkait yang ingin mengetahui kondisi suatu sekolah dalam konteks implementasi supervisi. Laporan supervisi dapat bermanfaat bagi berbagai pihak antara lain:

  1. Guru: a) menjadi kritik membangun bagi guru untuk melecut semangat sehingga performa mengajarnya akan semakin meningkat dari waktu ke waktu, b) menjadi saran atau bahan pertimbangan bagi guru guna memperbaiki kinerja mengajarnya di masa yang akan datang.
  2. Kepala sekolah: a) laporan supervisi merupakan informasi yang sangat berharga bagi kepala sekolah, b) laporan supervisi merupakan penilaian yang sangat bermanfaat sekaligus masukan yang sangat berguna bagi peningkatan mutu sekolah di masa yang akan datang.
  3. Orang tua siswa:  laporan supervisi  menjadi  alternatif  media  informasi  bagi orang tua siswa untuk mengetahui secara objektif, tepat, benar, dan akurat mengenai kualitas sekolah tempat anaknya belajar.
  4. Pengawas (atau  kepala  sekolah  yang  melakukan  supervisi):  a)  laporan  bisa menjadi autokritik baginya  tentang  mutu  sekolah,  efektivitas  proses  pembelajaran, dan  sejauh  mana  program  supervisi yang didisain dan dilaksanakan  efektif dalam mengembangkan  kemampuan  profesional guru, b) laporan supervisi bisa  dijadikan sebagai titik awal untuk mendisain dan merencanakan program supervisi pada periode berikutnya. Sehingga program supervisi dari satu periode ke periode berikutnya merupakan sesuatu yang berkelanjutan.
  5. Dinas Pendidikan: a) laporan supervisi bisa menjadi bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan yang relevan dengan kondisi sekolah yang real, b) dijadikan sebagai bahan pengkajian kondisi persekolahan secara nasional. Aspek-aspek yang harus ada dalam isi laporan mencakup empat hal. 1.  Laporan berisi identifikasi kekuatan dan kelemahan sekolah secara objektif, supervisi merupakan proses kegiatan yang terdiri dari penelitian, penilaian, perbaikan dan peningkatan. Bila keempat kegiatan supervisi tersebut dilaksanakan disertai dengan berbagai teknik supervisi, pasti pengawas atau yang melakukan supervisi menemukan sisi positif dan negatif dari sekolah yang dibinanya. 2. Laporan supervisi harus mengandung informasi tentang kualitas sekolah secara keseluruhan, semua hal yang menyangkut mutu sekolah secara keseluruhan harus diinformasikan secara objektif dan jelas.  3.  Laporan supervisi harus mencakup standar pencapaian prestasi siswa. Informasi mengenai sejauh mana hasil belajar siswa mampu memenuhi standar-standar hasil belajar yang telah ditetapkan harus secara jelas dan objektif tertuang dalam isi laporan supervisi yang dibuat oleh supervisor. 4.  Laporan supervisi berisi tentang apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki hal yang perlu diperbaiki. Informasi tentang hal apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja sekolah menurut perspektif pengawas atau kepala sekolah harus termuat secara jelas dalam laporan supervisi.

Guru DKI Jakarta

Standard
Guru DKI Jakarta

Beberapa latar belakang dan kenyataan di DKI Jakarta tentang guru berharap akan menambah kita lebih bebenah diri dan mengeksploitasi diri sebagai guru DKI Jakarta. Menurut Data Dirjen GTK bahwa padatahun 2020 nanti akan ada 11.000 guru pensiun  artinya Jakarta membutuhkan banyak guru. Bagaimana pemerintah lalu menyeleksi dalam menyiapkan guru sekaligus memperhatikan kualitas guru. Apakah akan menyeleksi dengan menggunakan nilai Ujian kompetensi guru nasional walaupun nyatanya bahwa nilai kompetensi paedagogik DKI relatif rendah pada nilai UKG, pun di beberapa sekolah guru menuntaskan S1 nya juga ada guru yang S1 nya tidak linier dengan tugas mengajar yang diampunya. Walupun sebenarnya penulis lebih meyakini kecakapan ketrampilan realnya ketimbang ijazah yang dimilikinya.

Bahwa di DKI Jakarta ini tunjangan guru relatif besar membuat semua orang ingin menjadi guru namun  hanya sebatas keinginan meraih tunjangannya. Tunjangan yang besar dan sudah dinikmati guru yang berstatus PNS ini belum banyak memberi pengaruh pada kualitas guru.

Menurut Pak Suryapranata bahwa beliau merekomendasikan bagaimana strategi pemda untuk mendapatkan GTK yang mumpuni di abad 21 ini , pemda mulai menata kembali kompetensi setiap guru yang mencakup 4 kompetensi guru yaitu profesional, paedagogik, sosial dan kepribadian pemda sudah harus membuat maping kompetensi guru secara periodik.

Membuat program Carrier Profesi Development secara online termasuk penguatan skill abad 21 yaitu Creative thinking, collavoration, Created inovation, dll. Jika di satu sisi pemerintah telah dan akan melaksnakan strategi ini semua guna pemenuhan kebutuhan guru di tiga tahun mendatang tidak lain faktor penentunya adalah sumber daya manusianya itu sendiri. Guru, kepala sekolah, para pejabat yang berada di tingkatatasnya lagi menjadi faktor penentu untuk melihat dan memaknai masalah ini sebagai masalah sumber daya manusianya. Banyak di negara berkembang seperti negara tetangga kiat Malaysia dan Singapura memilki kualitas SDM yang paham memaknai ini semua. Kultur budaya yang tak jauh berbeda dengan Indonesia namun untuk urusan Sumber Daya Manusia bidang pendidikan lebih baik ini dibandingkan dengan rata-rata PNS Guru DKI Jakarta.

 

 

 

Guru dulu baru siswa

Standard
Guru dulu baru siswa

Ketrampilan abad 21 yang harus dimiliki setiap siswa untuk dapat bersaing dalam perubahan zaman ini disiapkan dan diyakini menjadi modal setiap anak dapat berhasil menjadi bagian dari warga dunia yang akan maju dan berjalan beriringan. Pendidikan yang dapat menjadi wadah siswa untuk bagaimana mereka dapat dituntun dan dilatih berfikir kritis, bukan hanya menguasai pengetahuan hanya dengan kontek ingatan, pemahaman dan implikasinya namun mereka harus mulai dapat menganalisa, mengevaluasi dan harus menciptakan sesuatu sebagai prodak pendidikan.

Siswa zaman sekarang yang dekat dengan teknologi terus dimbing gurunya dalam menggunakan dan mengeksplore teknologi yang kualitatif dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Kemampuan literat anak mesti diasah guru di sekolah, bagaimana siswa mencari informasi dan mengkomunikasikannya dengan baik. Buku-buku apa saja yang dapat dibaca siswa dalam mendukung minat dan kebutuhannya. Situs-situs apa saja yang guru harus siapkan dan arahkan dikunjungi dalam  hubungannnya dengan kebutuhan belajarnya. Siswa harus dapat menyaring informasi yang didapat dan memiliki tanggungjawab untuk informasi yang didapat bagi dirinya sendiri dan masyarakat luas.

Siswa mesti diarahkan bagaimana menjadi bagian dari penduduk dunia yang semakin sempit ruangnya dan waktunya, siswa yang dapat memimpin dirinya sendiri, mengembangkan kemampuan, minat dan bakatnya secara bertanggungjawab. Menanamkan konsep dan pemahaman bukan sebatas ilmu dan informasi saja namun harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari dan menjadi ciri khasnya sendiri. Bagimana siswa berfikir kritis dan belajar sepanjang hayat dapat tertanam di kehidupan siswa. Siswa diberikan ruang untuk bebas mengembangkan minat bakatnya mengemukakan pendapatnya, dimotivasi terus agar percaya diri dalam mengutarakan pemikiran  harapannya bahkan siswa disiapkan dapat menghasilkan kreasi-kreasi produk yang baru dari dirinya.

Siswa dibimbing cara berkolaborasi dan bekerjasama dalam menyelasaikan masalah dan diberi ruang untuk bisa memilih teman kolaborasinya. Siswa harus diberi keyakinan bahwa bekerja sama dapat menghasilkan produk yang beragam dan melatih untuk hidup bersama dalam perbedaan. Perbedaan adalah kekayaan dan bukan tantangan.

Nah masalahnya adalah jika kita menuntut siswa dalam kompetensi abad 21 ini perttanyaannya apakah gurunya juga sudah mengaplikasikannya sendiri dalam kehidupan dan apakah kebiasaan dan kompetensi abad 21 ini sudah juga dimiliki guru ? jawabannya ada pada guru itu sendiri. Hakekatnya yaitu jika kita kaan mengajarkan, membimbing dan melatih ketrampilan abad 21 ini maka guru dulu yang harus memilki bahkan menguasai ketrampilan abad 21 ini . Apakah guru sudah berfikir kritis, sudah berinovasi dalam pengembangan diri dan pengembangan pengajarannya di kelas. Berapa banyak buku sudah dibaca guru sudahkan guru membuka atau mencari informasi-informasi terkini tentang pendidikan di beberapa situs dalam negeri atau luar negeri. Guru dulu baru siswa..

Pendidikan Abad 21 di Jakarta

Standard
Pendidikan Abad 21 di Jakarta

Bagaimanakah membangun sistem pendidikan yang cocok diterapkan di Provinsi DKI Jakarta? Apakah sistem pendidikan di Jakarta ini harus sama dengan sistem pendidikan di negara tetangga kita Singapura dan negara OECD ( Organitation Economic Co-operation Development) atau sama maknanya dengan organisasi untuk kerjasama dan pengembangan ekonomi. Apakah analisa SWOT di DKI dalam semua aspek SWOT memberikan jawaban yang dapat mendukung sistem pendidikan abad 21 di Jakarta. Tugas berat kita untuk bisa memikirkan dan membangun sistem pendidikan yang dapat adaptif pada perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan globalisasi itu sendiri. Dengan sistem pendidikan kita yang di standarkan untuk seluruh pelayanan pendidikan harus disiapkam menjadi pendidikan yang sekelas dengan sistem pendidikan kelas dunia atau regional. Orang yang paling bertanggungjawab untuk mengurus  masalah-masalah ini adalah kita semua, sebagai masyarakat, pemangku kepentingan, pemerintah pusat,  pemerintah daerah, pihak swasta kita ditantang cerdas untuk berkolaborasi saling mengisi. Pekerjaan rumah kita selanjuitnya adalah kita mencari cara tepat untuk meningkatkan kompetensi abad 21 yang anatara lain berfikir kritis, inovatif, kerjasama, komunikasi dan literat.

Dalam mengembangkan sistem ini kita akan mulai dari menentukan arah pendidikan abad 21 ala DKI Jakarta. Lalu komptensi kelulusan yang harus menjawab dan menuntaskan masalah sehari-hari dalam kehidupan dan masalah sosial ekonomi di era globalisasi  sekaligus peningkatkan karakter output. setelah itu mulailah semua pihak menyusun penilaian yang bagaimana dapat menelurkan output yang dapat menyelesaikan masalah kehidupan atau masalah sosial ekonomi di era globalisasi ini. Sungguh bukan kerja yang mudah namun butuh keyakinan dan daya juang yang tinggi bahkan kitapun tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi setelah ini. Ketika arah jalan sistem pendidikan di jakarta telah ditentukan penilaian juga sudah ditentukan maka seterusnya mulailah dengan apa yang kita sebut dengan pengelolaan dengan berbasis standar pengelolaan sekolah yaitu Sarana prasarana, pembiayaan, pendidik dan tenaga kependidikan, proses dan isi betul betul harus dikemas dan menjadi perhatian para atasan kita di atas kepala sekolah.

DKI Jakarta memiliki beberapa kekuatan diantaranya yaitu  anggaran daerah yang besar dan relatif stabil, memiliki infrastruktur yang berkualitas, termasuk juga di dalamnya Jakarta memiliki siswa yang siap berkualitas, jika kita melihat kualitas guru DKI pun baik dalam kurun waktu terakhir karena kualifikasi pendidikan pun telah baik walaupun belum seluruhnya berkualitas, dan satu lagi Pemerintah DKI Jakarta sudah memiliki komitmen yang baik dalam hal pengelolaan anggaran yang besar sebagai kota metropolitan yang menjadi center of ekonomi di Indonesia tahu betul apa yang harus dilakukan.

Namun sayangnya rata-rata sekolah-sekolah di DKI Jakarta memiliki lahan yang sempit, penduduk yang masih belum sadar bahwa mereka tinggal di DKI Jakarta yang harus mendukung memiliki visi dan misi  dan lingkungan alam pada sekolah-sekolah rentan akan polusi hal ini menjadi sealah satu kelemahannya.

Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan relatif tinggi, Jakarta juga memiliki perkembangan teknologi yang terus meningkat. Jakarta memiliki  etnis budaya yang majemuk dan menjadi peluang menjadi kota yang dapat mendukung konsep pendidikan abad 21. Pemberlakukan kurikulum 2013 yang sudah di tahun terakhir telah membawa arah pendidikan di DKI Jakarta lebih jelas ditambah lagi dengan penguatan pendidikan karakter yang menjadi jiwa dalam kurtilas.

Pemerintah DKI  Jakarta dalam hal ini Dinas Pendidikan mensiasati dinamika industri yang semakin cepat dan tak terprediksi dengan membuat strategi menghadapi tantangan zaman. Kebijakan yang akan diambil  dikeluarkan yang berdaya fungsi cepat mengejar ketinggalan dan maraton memaksimalkan fungsinya.

Saat ini Pemerintah DKI Jakarta menyiapkan tatanan pendidikan masa depan untuk generasi yang akan datang yang memiliki kekuatan karakter dalam mengembangkan kompetensi abad 21. Bagaimana seharusnya kita berfikir, berfikir, bekerja, bekerjasama, dan sikap yang seperti apa yang harus kita milki sebagai warga dunia. Jelas sekali seperti yang dikatakan Pak Plt Bowo Arianto saat acara informasi program-program Dinas Pendidikan bidang¬† SD dan PKLK bahwa “the world was change then you have to change, if you don’t change you will be die” Kalau saya boleh memaknai bahwa kita harus sadar akan perubahan ini dan harus tahu harus berbuat apa, jika kita tidak melakukan perubahan maka akan hancur tertindas oleh perubahan itu sendiri.